Kamis, 06 Februari 2014

Dia itu adalah SAHABAT sejati"DODOL as MEDOL"

Bukan Mimpi
Berteman dengan seseorang yang baik dan tulus, bersama saling menjaga, juga bersama dalam fase kehidupan tanpa pertengkaran yang berarti..Hah! itu semua hanya mimpi.
Tapi..Amboiii ! bagiku itu semua bukan mimpi.
Lebih dari dua belas tahun aku mengenalnya. Dia biasa kupanggil Emul, Mul, atau Mung. Awal perjumpaan kami adalah di sebuah sekolah dasar. Aku dan Mul selalu bersama di sekolah, dimana ada dia, disitulah aku berada.
Tahun kedua di sekolah dasar, terdapat peristiwa yang tak akan pernah kulupa. Ada  seorang teman yang entah karena terlalu kreatifnya atau licik, dia memberi pertanyaan menjebak kepada aku dan Mul di tempat yang terpisah, menyeret kami dalam sebuah blok permusuhan yang terjadi antar teman perempuan yang ada di kelas kami (haha, dasar bocah :p ). Suatu ketika saat aku tiba di sekolah, temanku tersebut mencegatku dan memberi pertanyaan, “Mei, pilih Mul atau Y?” tanpa pikir panjang, aku menjawab “pilih Emul lah, ada apa sih?” dia pun berkata “kalau pilih Mul, berarti lo ikut gue!”
Aku bingung, tapi bagiku tak masalah aku ikut siapa atau bermain dengan siapa, asal Mul bersamaku. Setelah aku bertemu dengan Mul, aku menceritakan hal yang kualami dan ternyata hal tersebut dialami pula olehnya. Mul harus memilih antara aku dan Y, dan Mul memilih aku. Hihihi..saat itu aku tak berpikir jauh, tapi setelah tahun-tahun berlalu dan teringat kejadian ini, aku berpikir, hebat juga ya temanku tersebut, mungkin pertanyaannya sederhana, tapi strateginya keren juga, dia mampu memberikan pengaruhnya kepadaku dan Mul melalui pertanyaan jebakan itu. Sebenarnya sih aku lebih memilih non blok diantara dua blok yang ada, tapi karena pertanyaan jebakan itu, aku dan Mul justru terjebak dalam sebuah blok yang sama..hehehe, lucu juga, tapi toh itu semua berakhir damai dengan sendirinya.
Di tahun yang sama hingga tahun ketigaku di sekolah dasar, aku sempat bersembunyi di rumah Mul saat aku diikuti setiap pulang sekolah oleh seorang anak murid laki-laki nakal di kelas kami. Aku dan Mul biasa memanggil anak itu Ganyong (bukan nama sebenarnya). Awalnya aku hanya diam saja dan memilih pulang melewati jalan yang berbeda, lewat gang-gang sempit berharap dapat mengelabui Ganyong saat ia mengikutiku dengan sepedanya. Aku sering menangis sampai di rumah akibat ulah Ganyong, aku takut bila dia tahu rumahku, lalu mengangguku, karena di rumahku aku sendirian tak ada orang dewasa ditambah gang rumahku itu sepi saat aku pulang sekolah. Hingga suatu ketika Ganyong kembali berulah, dan ulahnya mengikutiku semakin menggangguku, aku mengadu, bercerita kepada Mul. Kemudian bak pahlawan, Mul membelaku, dia memarahi Ganyong. Sejak itu aku selalu pulang bersama Mul, melewati rumah Mul, padahal itu berarti memakan waktu yang lama untuk sampai ke rumahku. Tapi tak apa, asal aku tak sendirian diikuti oleh Ganyong. Bersyukur, tahun keempat di sekolah dasar, ganyong pindah sekolah, aku luar biasa senang, dia lenyap dari hidupku (yeeahh!! maaf ya Ganyong, atas sikapku, habis nakal sih ;p).
Tahun keempat di sekolah dasar pula, aku sedih tak bisa duduk berdampingan dengan Mul. Kami satu kelas, tapi kami terpisah, tak duduk berdampingan. Di tahun ini aku sakit parah, tak mampu bersekolah dalam hitungan minggu. Surat keterangan dari dokter untuk guru dititipkan kepada Mul, Kemudian Mul dan juga teman-teman yang lain sering menjengukku di rumah dan mereka memberi kabar bahwa ujian evaluasi hasil belajar akan segera tiba. Aku pun bersemangat untuk sembuh dan kembali bersekolah, aku tak ingin tinggal kelas, aku juga ingin bermain bersama teman-teman lagi, khususnya bermain bersama Mul.
Tahun kelima di sekolah dasar, kembali terjadi peristiwa yang tak pernah kulupa, Mul mendapat sabetan salah sasaran dari guru pelajaran agama islam di sekolah kami. Mul berontak melawan. Aku sebagai saksi mata bahwa Mul tidak bersalah malah bergetar dengan mata berembun. “Pak, Mul gak salah, dia ada di dalam kelas bersama saya, dia tidak keluar kelas pak”, terbata-bata aku menjelaskan hal yang sebenarnya. Aku merasa bodoh, bukannya aku dengan sigap dan gagah berani menjelaskannya, aku malah berurai air mata.
Ya, aku cengeng! mudah sekali menangis. Aku menangis karena aku marah, kesal, Mul tidak bersalah dan sabetan itu pasti pedih di kulit Mul, kulitnya pasti sakit terkena sabetan itu.

Namun, itulah Mul, dia anak perempuan yang berani, tak gentar meperjuangkankan haknya, bila ia memang tak salah lalu disalahkan, maka ia akan berjuang mempertahankan apa yang diyakininya juga apa yang menjadi haknya.

Ditahun keenam, kebersamaan kami, Mul dan aku kian akrab. Kali ini ia membantuku dalam hal surat-menyurat. Dia bak seorang Pak Pos untukku (hehehe, maaf yak Mul). Ditahun ini pula kami berjuang bersama untuk ujian kelulusan sekolah dasar. Alhamdulillah, kami lulus dan diterima di Sekolah Menengah Pertama Negeri(SMPN) yang sama.
Tahun-tahun di SMPN ini aku jarang berkunjung dan bermain bersama Mul, ya, hubungan pertemanan kami tak semesra dulu meski kami masih sering pulang sekolah bersama. Terlebih di tahun kedua dan tahun ketiga di SMPN, kami tak lagi satu kelas, tak lagi duduk berdampingan.
Kerenggangan itu terjadi hingga kami lulus dari SMPN, aku melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) dan Mul melanjutkan studi ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN).
Namun takdir mempertemukan kami kembali, ya, benang merah antara kami berdua belum putus, mungkin kami memang berjodoh..hihihi, kami kembali bersama. Kami melanjutkan studi di universitas, fakultas dan program studi yang sama.
Lambat kuberitahu dalam tulisan ini bahwa Mul memanggilku Dol dari kata Medol atau Dodol hingga saat kini. Selain kakak dan bapakku, dia teman pertama yang memanggilku dengan sebutan itu sejak tahun kelima di sekolah dasar. Ya, sejak aku bercerita padanya bahwa aku di rumah suka diledek medol, dodol, edol oleh keluargaku, dia justru ikut-ikutan memanggilku dengan sebutan seperti itu. Hingga saat ini, aku justru merasa aneh dan asing jika Mul memanggil namaku dengan benar tanpa sebutan Dol,hehehe.. 
Selain itu, Mul berperan penting dalam peristiwa hebat dihidupku, saat aku sakit demam berdarah dengan parahnya dan harus dirawat dalam hitungan minggu di rumah sakit, ia menjengukku di rumah sakit dan juga saat aku telah pulang dari rumah sakit, bahkan saat di rumah sakit, layaknya seorang kakak yang mengurus adiknya, Mul mengoleskan minyak kayu putih ke perut dan dadaku saat aku mual dan tak bisa melakukan dengan tanganku sendiri karena tangan kananku terdapat jarum infus dan tangan kiriku terlalu ngilu akibat bekas jarum suntik yang dalam sehari, empat kali menghisap darahku untuk diperiksa di laboratorium yang menghasilkan memar, biru lebam di lenganku.
Juga saat aku memutuskan untuk berjilbab, Mul adalah teman yang pertama kuberitahu dan aku berguru dengannya dalam memakai jilbab dan cara memainkan jarum pentul pengunci jilbab di bawah daguku. Mul juga membantuku, menemaniku dalam menyembuhkan trauma yang pernah kualami.
Kemudian saat kami harus memutuskan untuk ikut studi ke Malaysia, orang tua Mul bertanya kepada Mul apakah aku ikut atau tidak, sebagai bahan pertimbangan mereka, begitupun orangtuaku, Mul ikut atau tidak??..haha, sampai segitunya??
Dan dengan berbagai pertimbangan kami, juga pertimbangan orangtua kami, maka kami memutuskan untuk tidak ikut plus tidak adanya restu orangtua kami.
Mul berkata padaku, kurang lebih intinya seperti ini yang aku tangkap, ”Dol, klo gue pergi, lu juga pergi, kita dari awal berjuang bareng-bareng, kita berangkat juga harus bareng-bareng, dalam mimpi gue, gue harus pergi berangkat bareng lo, klo lo ga berangkat, gue juga ga berangkat, masa gue pergi sendiri, orangtua gue ga akan ijinin klo lo ga ada, kita berjuang bareng-bareng, kita sukses bareng-bareng”. Rasanya aku ingin menangis meresapi kata-kata Mul.

Ya, bagiku Mul tak hanya seorang teman, sahabat, tapi juga seorang kakak, dia bagian dari keluargaku. Mul sosok yang cerdas, penuh tanggung jawab, sayang kepada keluarganya, teguh pendirian, aku pun sering terinspirasi olehnya, aku kagum padanya.

Ada Mul dalam Fase-fase dalam kehidupanku. Benarlah lirik lagu Sindentosca bahwa,persahabatan bagai kepompong, mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Terimakasih atas segala yang telah kau berikan juga atas semua yang telah kau lakukan untukku. Kumohon, maafkan aku bila aku belum bisa menjadi teman, sahabat yang baik untukmu, kurang memahami dirimu, selalu merepotkanmu, bersikap menyebalkan dan kekanakan, maafkanlah aku.
Ijinkanlah aku untuk seterusnya menjadi teman dan sahabat tetapmu, jangan pecat aku (hehehe..). Ijinkan aku menghiasi lembaran kisah hidupmu, layaknya kehadiranmu yang menghiasi lembaran kisah hidupku.
Semua yang kualami bersama Emul, sungguh bagaikan mimpi, tapi semua itu adalah nyata, bukan mimpi.
Jakarta, 29 Agustus 2011
Teruntuk Muliana, sahabatku tersayang yang berulang tahun tanggal 28 Agustus selamat ulang tahun, semoga sehat dan sukses selalu, aamiin^^