Rabu, 13 Agustus 2014

Ikhlas, bersungguh-sungguh dan kebaikan hati

Ini sepenggal kisah yang menurut saya merupakan hikmah dari ketulusan, kebaikan hati, juga keikhlasan.
Dia (sebut saja dengan inisial A) seorang teman yang baru saya kenal sekitar 1,5 tahun yang lalu. Berbeda dengan teman yang lainnya A seorang yang frendly, dapat dipercaya, dapat diandalkan, dapat diambil pelajaran dari hidupnya, yang mendorong saya untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Selain itu dia adalah orang yang istiqomah untuk berhijrah dari kehidupan lamanya, juga istiqomah dalam mempelajari dan memperdalam agamanya.
Setelah perkenalan kami yang tidak biasa, terjalin ikatan pertemanan yang luar biasa, mungkin karena A seorang dengan kepribadian yang luar biasa.
Banyak informasi yang telah kami bagi satu sama lain, baik itu pekerjaan, keluarga, kisah hidup, pertemanan, dsb.
Ada cerita yang dapat saya rangkum mengenai dirinya. Pernah ada seorang temannya (kita sebut B) sedang dalam kesulitan finansial (entah itu hutang piutang atau lain sebagainya) atas dasar pertemanan A membantu B dengan memberikan pinjaman sejumlah uang demi memulihkan finansial B. Atas dasar kepercayaan pula A meminjamkan uang tersebut. Namun apa yang terjadi diluar harapan tidak ada i'tikad baik dalam menyelesaikan hutang piutang mereka. Bukan karena menyerah dalam proses hutang piutang tersebut akhirnya A mengikhlaskan sejumlah uang tersebut, dengan niat bersedekah atas dirinya untuk temannya tersebut.
Masih dengan cerita yang sama. A meminjamkan sejumlah uang kepada C, karena C benar2 dalam kesulitan utang piutang, hingga C sempat putus asa untuk melanjutkan hidupnya. Memang A memiliki sifat yg baik dan suka menolong dia mencoba membantu meminjamkan sejumlah uang kepada C agar C bisa bangkit dari depresinya dan kembali menjalani kehidupan dengan anak2 dan istrinya. (Kelanjutan cerita utang piutang C saya kurang tau apakah berjalan baik atau tidak. Semoga berjalan dengan baik).
Begitupun dengan saya, ketika kesulitan finansial menghadang saya dikarenakan kekurangan dana saat pembangunan rumah, segala cara sudah saya lakukan, baik kerja sampingan, pinjam ke sana-sini agar pembangunan tersebut berjalan sesuai rencana. Namun Allah berkata lain, saya tidak mendapatkan pinjaman sejumlah uang yg saya butuhkan.
Tetapi Allah berkehendak lain, dengan ikhlas A bersedia membantu saya walaupun A juga masih berada dalam kesulitan finsial. Mungkin karena sifat baiknya tetap saja dia rela mencarikan solusi untuk membantu saya. Bahkan nyaris motor kesayangannya itu berpindah tangan. Saya tidak akan ikhlas menerima pinjamannya jika motornya tersebut dipindah tangankan. Solusi lain dia cari agar saya dapat menyelesaikan masalah saya, entah dari mana dia dapat sejumlah uang tersebut, dia hanya berkata "ini saya pinjam lagi dari teman saya". Dan syukur Alhamdulillah saya bisa menyelesaikannya sesuai perjanjian dalam tempo 2 bulan saya dapat menyelesaikan hutang piutang kami.
Cerita lainnya pula dia seorang yang rajin bersedekah.
Benar dengan janji Allah, Allah akan memberikan ganjaran yang baik pula atas amal ibadah manusia. Dengan keikhlasannya, kesungguhannya, kebaikan hatinya, dan sedekah atas dirinya, Allah memberikan hal yang A cari selama ini. Seorang istri yang sholeh, cantik, dan baik hati pula.
Sungguh janji Allah benar adanya. Mungkin yang kita bantu adalah uang, Allah punya rencana lain untuk membantu kita.
Ini sepenggal kisah dari hikmah sebuah ketulusan dan keikhlasan untuk menjadi pelajaran untuk saya dan semua orang.
“Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”. (QS. Al-An’aam: 162-163).


Wallahua'lam bishoab
Jakarta, 13 Agustus 2014.

Mung ^_^v